Anggorosensei’s Blog

CINTA DAN KETULUSAN….

Posted by: anggorosensei on: January 12, 2009

Suatu ketika ada seorang pemuda yang baru saja pulang dari wajib militer di sebuah negeri. Setelah melewati masa-masa yang sulit dalam berbagai misi berbahaya, akhirnya tiba saat baginya tuk kembali kekampung halaman. Malam mulai beranjak larut saat sang pemuda tersebut tiba di tapal batas desa. Akhirnya ia pun memutuskan untuk menginap di sebuah penginapan sederhana yang ada disana. Untuk meluruhkan rasa rindu yang teramat sangat pada sanak keluarga, si pemuda tersebut menyempatkan diri untuk menelephon ibunda tercinta di rumah.
“wahai ibu, masa tugasku telah usai, kini aku bisa segera pulang ke rumah.” Kata si anak.
“syukurlah anakku, segeralah pulang… ayah dan adikmu telah teramat rindu padamu.” Balas sang ibu.
“bu, aku ingin membawa serta kawanku saat bertugas dahulu. Bolehkah ia tinggal bersama kita bu ?” tanya si anak.
“oh, kenapa tidak? Bawalah serta sahabatmu itu, sahabatmu adalah anakku juga” jawab si ibu
“tapi bu, sahabatku ini telah cacat karena terkena ranjau saat ia bertugas. Kini ia hanya memiliki sebelah tangan dan sebelah kaki saja, apakah ibu masih mau menerimanya?” tanya si anak.
Mendengar penjelasan pemuda tadi, si ibu mulai mengurungkan kembali niatnya untuk menerima sahabat si anak tinggal bersama. Ia membayangkan betapa repotnya melayani orang cacat yang tinggal memiliki sebalah tangan dan kaki. Sedangkan ia masih memiliki segudang pekerjaan rumah tangga yang juga harus diselesaikannya setiap hari.
Si ibu berkata, “Anakku, tidakkah sebaiknya kamu menitipkannya saja pada panti social korban perang? Disana ia akan bersama dengan orang-orang yang bernasib sama dan tentunya disana ada orang yang ditugaskan khusus untuk merawat mereka. Tidakkah kau bayangkan betapa repotnya kita jika harus merawat dan melayani seorang cacat yang hanya memiliki sebelah tangan dan kaki?”. “sudahlah anakku… pulanglah segera, titipkan saja sahabatmu itu dipanti social. Kini dimana kamu menginap? Biar esok hari ibu dan ayahmu yang akan menjemputmu. Untuk urusan sahabatmu biarlah pamanmu saja yang ada di departemen pertahanan yang akan mengurusnya.”
Mendengar penjelasan si ibu, betapa hancurnya perasaan pemuda tadi. Ia begitu sedih dan kecewa. Dalam kalut dan tangis yang tak terbendung ia menutup percakapan tersebut seraya berkata. “aku menginap di penginapan sederhana di tapal batas desa”. Kemudian si pemudapun segera menutup gagang telephon tanpa berpanjang kata lagi.
Ke esokan harinya sang ibu di kagetkan dengan kabar tragis, tentang tewasnya seorang pemuda yang menginap di sebuah penginapan sederhana di tapal batas desa. Ia tewas seketika setelah menerjunkan diri dari lantai tiga penginapan tersebut. Dan yang lebih mengejutkan dan membuatnya terenyuh adalah, bahwa ia mendapati si korban dalam keadaan telah kehilangan sebelah tangan dan kakinya. Ternyata jasad tak bernyawa tadi tidak lain dan tidak bukan adalah anak laki-laki yang selama ini dinanti-nantikannya.
Sahabat, cinta adalah bagian dari sifat-Nya yang Dia sisipkan pada jiwa makhluk-makhluk ciptaan-Nya. Dalam diri setiap makhluk-Nya selalu ada cinta. Karena cinta adalah kehidupan itu sendiri. Cinta adalah bahasa universal kehidupan. Hewan pun juga memliliki cinta. Seekor induk ayam memiliki segudang cinta untuk anak-anaknya. Se buas apa pun induk singa, ia tak akan memangsa anaknya. Ia akan mempertahankan dengan taruhan nyawanya ketika marabahaya membahayakan keamanan anak-anaknya. Jika pada hewan bahasa universal tersebut sering kali di sebut insting atau naluri maka pada manusia itu disebut dengan cinta dan kasih sayang. Iba ketika melihat seseorang dalam kesulitan itulah cinta. Menolong orang yang tak kita kenal itu juga cinta. Memberikan hadiah pada sanak kerabat, sahabat, dan orang tua juga bentuk dari cinta. Mendengarkan dengan sabar keluh kesah seorang sahabat adalah wujud lain cinta dan kasih sayang. Mencintai kekasih dan istri adalah bentuk sempit atau lazim cinta yang paling dipahami sebagian besar kita.
Ketulusan cinta yang tanpa pamrih menjadikan seseorang yang kita cintai menjadi tentram, bahagia, dan membantunya meraih prestasinya yang tertinggi. Namun terkadang cinta membawa kita pada ego dan penguasaan terhadap apa yang kita cintai. Itulah bentuk kekerdilan cinta. Cinta seperti ini cenderung merusak serta mengotori hakikat cinta yang pada hakikatnya adalah suci karena cinta sendiri pada dasarnya berasal dari sumber yang Maha suci. Cinta yang telah didominasi oleh nafsu akan senantiasa menghendaki kesenangan yang sempit dan rendah. Ia senantiasa membawa pelaku-pelakunya pada kerusakan.
Sahabat, untuk mendapatkan kemurnian cinta yang hakiki haruslah kita kembali sandarkan pada sumber Cinta itu sendiri. Cinta adalah bagian dari sifat-Nya. Maka cinta yang murni dan utuh hanyalah cinta yang bertolak dari kecintaan kita pada si pemilik dan sumber cinta itu sendiri. Dialah yang Maha suci si pemilik dan sumber cinta yang sejati. Dia mengajarkan kita dengan cinta-Nya. Mengarahkan kita untuk mencintai siapa saja yang mencintai-Nya serta mencintai untuk mendapatkan cinta-Nya. Cinta seperti inilah yang akan memberikan kita kehidupan yang sempurana, karena Seharusnya cinta itu memberi tanpa syarat dan ketulusan tanpa batas pada perindu-perindu Cinta-nya.
cyrusfather_daughter_by_cyrusmuller1

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.