Posted by: anggorosensei on: January 5, 2009
Dahulu terdapat sebuah keluarga yang tinggal mengontrak pada sebuah rumah mungil nan bersahaja di pemukiman padat dibilangan timur Jakarta. Begitu padatnya sehingga antara rumah satu dengan yang lainnya hanya berjarak tidak lebih dari beberapa meter saja. Hanya ada gang sempit yang menghubungkan keluarga satu dengan yang lainnya. Di sepanjang gang sempit itulah puluhan keluarga berinteraksi, saling sapa, saling tanya, dan saling cerita. Ramai anak-anak berjejal berlarian di lorong-lorong gang yang sempit dan becek kala hujan mengguyur. Jemuran beraneka ragam jenis, warna dan ukuran bergelayutan dikiri kanan ruas-ruas gang yang semakin menguatkan senandung getir kehidupan. Rumah bersahaja tersebut hanya berukuran 6 x 6 meter saja. Dihuni oleh 4 orang anggota keluarga lengkap dengan perabotan yang berjejalan di dalam petakan rumah yang sebenarnya pula tidaklah terlalu banyak. Hanya terdapat tiga ruangan yang masing-masing hanya di batasi oleh skat dari triplek. Ruangan bagian paling depan biasa digunakan untuk menerima setiap tamu yang datang. Ruang tengah diperuntukKan sebagai ruang tidur seluruh anggota keluarga sekaligus ruang aktivitas utama. Dan ruang belakang diperuntukan sebagai dapur dan kamar mandi. Tinggalah di dalamnya ayah, ibu, si sulung dan si bungsu. Si ayah telah lama tidak bekerja. Gelombang resesi ekonomi mengkandaskan usaha tempat si ayah bekerja dan PHK pun tak dapat dihindari. Sejak saat itulah perekonomian keluarga ditopang oleh sang ibu yang bekerja sebagai tenaga pengajar disebuah sekolah di bilangan utara Jakarta. Untuk dapat menjaga agar dapur tetap ngebul sang ayah bekerja serabutan.
Keadaan terasa semakin sulit ketika si bungsu mulai masuk sekolah dasar. Dengan pendapatan perbulan ibu yang tidak seberapa, sudah mafum dan dipahami bahwa biaya pendidikan bagi keluarga ini bukanlah harga yang murah. Meski tidak berlebih sang ibu senantiasa mengajarkan untuk tetap bersyukur atas karunia-Nya. Si bungsu paham betul nasihat sang ibu walaupun masih dalam usia yang teramat belia untuk dapat memahami kerasnya kehidupan. Meski tidak banyak, setiap hari ia masih bisa mengantongi beberapa keping uang 50-an saat kesekolah. Ah …. Tak banyak yang dapat dibeli dengan uang 150 perak, hanya dapat membeli dua potong gorengan dan seplastik es teh. Sang ibu memang telah mendidiknya dengan kekurangan harta. Baginya setiap keping uang 50-an teramat berharga. Terkadang ia hanya mampu melihat teman-teman sebayanya yang dengan leluasa membeli aneka jajanan yang terpajang rapih diwarung kecil dekat sekolah. Sang ibu tidak terbiasa memberinya uang jajan tambahan dalam satu hari. Artinya beberapa keping uang limapuluhan tadi untuk kebutuhan sehari. Pernah suatu ketika ia berpuasa selama di sekolah hanya untuk dapat membeli semangkuk bubur ayam yang biasa berjualan sore hari di lapangan dekat rumah. Biasanya ia melakukan beberapa hal kecil yang dapat dilakukan bocah seusianya untuk mendapatkan uang tambahan. Dimulai dari kurir barang, membelikan makan siang orang, sampai membantu mengangkut pasir jika ada salah seorang tetangga yang kebutulan sedang membangun rumah atau sekedar merenovasinya. Di dekat rumah ada seorang pedagang warung yang rutin minta dibelikan sebungkus nasi padang kegemarannya untuk makan siang. Si bungsu biasa memanggilnya om padang. Dijaman itu warung padang merupakan hal langka. Sehingga ia harus menempuh jarak yang jauh untuk dapat membeli sebungkus nasi padang. Tidak kurang ia menempuh jarak dua hingga dua setengah kilo meter, dan untuk ukuran bocah Seusianya itu adalah jarak yang jauh. Dari om padang ia biasanya mendapat beberapa keping uang 50-an sebagai uang lelah. Ah…betapa gembiranya ia ketika melihat beberapa keping uang logam sudah ada di tangannya.
Tidak seperti sebagian keluarga miskin lainnya, anak-anak dirumah mungil nan bersahaja ini sangat dibiasakan untuk hidup tertib dan teratur. Ibu selalu mengajarkan bahwa segala sesuatu itu memiliki hak untuk ditunaikan oleh masing-masing pribadi. Bahkan waktupun punya hak. Kata ibu waktu punya hak untuk digunakan dengan baik. Setiap pekerjaan harus dikerjakan sesuai dengan waktunya. Itulah hak waktu menurut ibu. Setiap menjelang tidur, ibu selalu menanyakan apa yang telah dikerjakan si bungsu seharian. Sembari tiduran si bungsi begitu bersemangat menceritakan aneka hal dan kejadian yang di laluinya. Dengan diterangi lampu 10 watt percakapan itu berlalu dengan asyiknya hingga kantuk menghampiri. Setiap waktu-waktu menjelang tidur tersebut, biasa tukang sekoteng pikul lewat digang belakang rumah. Menyusuri lorong-lorong gang sempit yang sudah lengang. Sembari memukul-mukul ringan mangkok porselen ia menanti pembeli. Suara ketukan mangkuk itu terasa begitu memilukan, sehingga membuat si bungsu senantiasa menangis ketika mendengarnya. Ting.. ting..ting…ting…ting… denting mangkuk porselin mengisi kesunyian malam yang dingin. Penjual sekoteng itu terus membunyikannya sepanjang lorong gang yang sunyi dendangkan irama-irama kesedihan, seraya berharap ada seorang pembeli baik hati yang sudi membeli semangkuk sekotengnya.
Seluruh rangkaian puzzle-puzle kehidupan tersebut telah menjadi bagian hidup si bungsu. Seluruhnya telah memberikan sentuhan-sentuhan bagi pribadi bocah belia itu. Mengajarkan betapa kerasnya perjuangan dan betapa berharganya kehidupan. Memberi aneka warna pada si bungsu yang dibawanya hingga ia dewasa.